Sunday, 15 February 2015

NDP BAB VII



VII. KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN

Kita telah membicarakan bahwa manusia ditetapkan Allah sebagai Khalifah fil Ardhi – pengelola bumi, di samping sebagai ‘Abdullah – hamba Allah. à untuk dapat menunaikan tugasnya dengan baik, manusia perlu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bumi dan alam sekitarnya, serta tentang manusia sendiri.

Kita telah membicarakan pula bahwa alam semesta ini dicipta melalui proses dan prosedur yang pasti (fii sittati ayyam – dalam enam hari) – kemudian diatur dengan taqdirnya yang tetap dan tidak berubah. Kemudian manusia dianugerahi akal yang mampu menangkap gejala, proses, kejadian à manusia menda-patkan pengetahuan-pengetahuan yang banyak. Berbagai pengetahuan yang diperoleh di berbagai tempat dan waktu itu kemudian dihimpun dan disistematisasikan à ilmu pengetahuan. Orang memiliki ilmu pengetahuan kealaman (natural sciences), dan ilmu pengetahuan tentang manusia (social sciences dan juga humaniora).

Gejala-gejala alami yang dapat ditangkap oleh indera dan akal itu disebut Ayat (tanda à tanda keberadaan dan keagungan Allah swt). Pada saat yang sama Allah juga menurunkan ayat yang berupa wahyu. Dengan demikian ada dua ayat Allah yang dapat dipahami manusia:
·        Ayat Kauniyah – ayat alam à fenomena alam dan manusia yang dapat ditangkap oleh akal dan disusun menjadi ilmu.
·        Ayat Tanziliyah – ayat yang diturunkan à keterangan langsung dari Allah yang dapat ditangkap oleh akal dan juga dapat disusun menjadi ilmu.

Kedua ayat tersebut berasal dari Allah à tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya. Kalau nampak seperti ada pertentangan, maka tiga kemungkinannya:

·        Pemahaman terhadap ayat kauniyah keliru
·        Pemahaman tentang ayat tanziliyah keliru
·        Pemahaman terhadap dua-duanya keliru.
à bila pemahaman terhadap keduanya benar : dua ayat tadi saling menopang dan melengkapi.

Sebagai ‘abdullah dan khalifah fil ardhi, manusia wajib untuk beramal shalih à antara lain mengatur tatanan alam dan manusia. à harus menguasai ilmu pengetahuan, baik yang kauniyah maupun yang tanziliah à mencari dan mengem-bangkan ilmu merupakan keharusan bagi setiap muslim.
(Hadits: Tholabul ‘ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimin wa muslimatin – mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, baik  laki-laki maupun wanita).
·        Menuntut ilmu secara umum, merupakan fardhu ‘ain
·        Menuntut ilmu khusus (bidang-bidang tertentu) à fardhu kifayah.

Dengan semangat ibadah dan dilandasi norma-norma ibadah, para pejuang Islam masa dahulu telah menggali ilmu dengan sangat cermat, sehingga menjadi pelopor-pelopor pengembang ilmu pada zamannya. Di antara mereka adalah :

1.     Jabir ibn Hayyan (721-815), di negeri Barat dikenal sebagai Geber. Diakui dunia ilmu sebagai orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam penelitiannya di bidang alkemi. Dia menggunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi mineral tersebut menjadi zat Kimia lalu membuat klasifikasinya.
2.     Muhammad ibn Musa al-Khwarazmi ( w 836). Dikenal oleh para ilmuwan dengan nama Algorithm. Namanya menjadi salah satu pengertian penting dalam Aritmetika. Penemu angka nol, yang menjadi faktor sangat penting dalam Ilmu Aljabar, ilmu yang didasarkan kepada judul bukunya.
3.     Muhammad ibn Zakaria ar-Razi (855-925), dikenal dengan nama Latin Razes. Dia seorang dokter klinis yang banyak melakukan penelitian dalam ilmu Kimia. Sebagai dokter, melakukan penelitian yang sangat bermanfaat mengenai penyakit Cacar dan Campak.
4.     Abi Ali al-Husain ibn Sina (980-1073), dikenal sebagai Avicena. Penulis buku-buku pengobatan, yang selama lima abad digunakan oleh dunia kedokteran. Selain itu dia juga menulis masalah Astronomi dan Filsafat.
5.     Ibn Khaldun (1332 – 1406), seorang sejarawan yang dikenal sebagai “Bapak Sosiologi Islam”. Mempelajari ilmu secara otodidak, dan menulis banyak buku yang sampai sekarang masih dipelajari oleh para ahli.
6.     Umar Khayam, al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan lain-lain.

Para ilmuwan tersebut adalah juga “ulama” dalam pengertian menguasai ilmu-ilmu taziliyah. Mereka mengembangkan ilmu justru karena dorongan agamanya.

Bersama dengan perkembangan keilmuan pada pribadi para tokoh muslim, dibangun pula lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian yang sangat maju pada zamannya. Di antara lembaga tersebut adalah: Bait al-Hikmah di Baghdad, dibangun sekitar tahun 815, Dar al-Ilm, dibangun tahun 1005 di Kairo, al-Azhar di Kairo, dan observatorium yang dibangun di beberapa tempat.

Sayang, kemajuan ilmu di kalangan kaum muslimin kemudian mengalami kemunduran yang sangat tajam, karena masyarakat disibukkan oleh pertikaian di antara mereka dan hubbud dunya yang berlebihan.



No comments: