VII. KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Kita telah membicarakan bahwa manusia
ditetapkan Allah sebagai Khalifah fil
Ardhi – pengelola bumi, di samping sebagai ‘Abdullah – hamba Allah. à untuk dapat menunaikan
tugasnya dengan baik, manusia perlu mempunyai pengetahuan yang cukup tentang
bumi dan alam sekitarnya, serta tentang manusia sendiri.
Kita telah membicarakan pula bahwa alam
semesta ini dicipta melalui proses dan prosedur yang pasti (fii sittati ayyam – dalam enam hari) –
kemudian diatur dengan taqdirnya yang tetap dan tidak berubah. Kemudian manusia
dianugerahi akal yang mampu menangkap gejala, proses, kejadian à manusia menda-patkan pengetahuan-pengetahuan yang
banyak. Berbagai pengetahuan yang diperoleh di berbagai tempat dan waktu itu
kemudian dihimpun dan disistematisasikan à ilmu pengetahuan. Orang memiliki ilmu pengetahuan kealaman (natural sciences), dan ilmu pengetahuan
tentang manusia (social sciences dan
juga humaniora).
Gejala-gejala alami yang dapat ditangkap oleh
indera dan akal itu disebut Ayat (tanda à
tanda keberadaan dan keagungan Allah swt). Pada saat yang sama Allah juga
menurunkan ayat yang berupa wahyu.
Dengan demikian ada dua ayat Allah yang dapat dipahami manusia:
·
Ayat Kauniyah – ayat alam à fenomena alam dan manusia
yang dapat ditangkap oleh akal dan disusun menjadi ilmu.
·
Ayat Tanziliyah – ayat yang
diturunkan à
keterangan langsung dari Allah yang dapat ditangkap oleh akal dan juga dapat
disusun menjadi ilmu.
Kedua
ayat tersebut berasal dari Allah à tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya. Kalau nampak seperti
ada pertentangan, maka tiga kemungkinannya:
·
Pemahaman terhadap ayat kauniyah keliru
·
Pemahaman tentang ayat tanziliyah keliru
·
Pemahaman terhadap dua-duanya keliru.
à bila pemahaman terhadap keduanya benar : dua ayat tadi saling menopang
dan melengkapi.
Sebagai ‘abdullah dan khalifah fil ardhi,
manusia wajib untuk beramal shalih à antara lain mengatur
tatanan alam dan manusia. à harus menguasai ilmu
pengetahuan, baik yang kauniyah maupun yang tanziliah à mencari dan mengem-bangkan ilmu merupakan keharusan bagi setiap muslim.
(Hadits: Tholabul
‘ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimin wa muslimatin – mencari ilmu itu
wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki
maupun wanita).
·
Menuntut ilmu secara umum, merupakan fardhu
‘ain
·
Menuntut ilmu khusus (bidang-bidang tertentu) à fardhu kifayah.
Dengan semangat ibadah dan dilandasi
norma-norma ibadah, para pejuang Islam masa dahulu telah menggali ilmu dengan
sangat cermat, sehingga menjadi pelopor-pelopor pengembang ilmu pada zamannya.
Di antara mereka adalah :
1. Jabir ibn Hayyan
(721-815), di negeri Barat dikenal sebagai Geber. Diakui dunia ilmu sebagai
orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam penelitiannya di bidang
alkemi. Dia menggunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi
mineral tersebut menjadi zat Kimia lalu membuat klasifikasinya.
2. Muhammad ibn Musa
al-Khwarazmi ( w 836). Dikenal oleh para ilmuwan dengan nama Algorithm. Namanya
menjadi salah satu pengertian penting dalam Aritmetika. Penemu angka nol, yang
menjadi faktor sangat penting dalam Ilmu Aljabar, ilmu yang didasarkan kepada
judul bukunya.
3. Muhammad ibn Zakaria
ar-Razi (855-925), dikenal dengan nama Latin Razes. Dia seorang dokter klinis
yang banyak melakukan penelitian dalam ilmu Kimia. Sebagai dokter, melakukan
penelitian yang sangat bermanfaat mengenai penyakit Cacar dan Campak.
4. Abi Ali al-Husain ibn Sina
(980-1073), dikenal sebagai Avicena. Penulis buku-buku pengobatan, yang selama
lima abad digunakan oleh dunia kedokteran. Selain itu dia juga menulis masalah
Astronomi dan Filsafat.
5. Ibn Khaldun (1332 – 1406),
seorang sejarawan yang dikenal sebagai “Bapak Sosiologi Islam”. Mempelajari
ilmu secara otodidak, dan menulis banyak buku yang sampai sekarang masih
dipelajari oleh para ahli.
6. Umar Khayam, al-Ghazali,
Ibn Rusyd, dan lain-lain.
Para ilmuwan tersebut adalah juga “ulama”
dalam pengertian menguasai ilmu-ilmu taziliyah. Mereka mengembangkan ilmu
justru karena dorongan agamanya.
Bersama dengan perkembangan keilmuan pada
pribadi para tokoh muslim, dibangun pula lembaga-lembaga pendidikan dan
penelitian yang sangat maju pada zamannya. Di antara lembaga tersebut adalah:
Bait al-Hikmah di Baghdad, dibangun sekitar tahun 815, Dar al-Ilm, dibangun
tahun 1005 di Kairo, al-Azhar di Kairo, dan observatorium yang dibangun di
beberapa tempat.
Sayang, kemajuan ilmu di kalangan kaum
muslimin kemudian mengalami kemunduran yang sangat tajam, karena masyarakat
disibukkan oleh pertikaian di antara mereka dan hubbud dunya yang
berlebihan.
No comments:
Post a Comment