Sunday, 15 February 2015

NDP BAB I



BAB I : DASAR-DASAR KEPERCAYAAN


Manusia memerlukan kepercayaan à percaya merupakan fitrah manusia dan salah satu kebutuhan dasar manusia.
Keperluan untuk percaya itu dimulai tentang hal-hal yang merupakan pengalaman keseharian.
·        Orang perlu percaya bahwa yang duduk di sebelahnya tidak akan berbuat jahat;
·        Orang perlu percaya bahwa gedung yang dimasukinya tidak akan runtuh;
·        Orang perlu percaya bahwa sekolah yang dimasukinya akan memberi ilmu yang memadai, bahwa tempat kerjanya akan memberinya nafkah yang cukup, dan sebagainya

à Tanpa kepercayaan orang akan resah dan tidak menemukan kebahagiaan. Orang perlu percaya bahwa besok masih ada matahari, bahwa ada keteraturan di dalam alam, bahwa akan terus ada makanan, rizki, dan sebagainya à orang perlu percaya akan adanya Tuhan! à kepercayaan kepada Tuhan itu merupakan kebutuhan pokok manusia.

·        Dr. Julian Huxley (Biolog) menyatakan bahwa percaya kepada Tuhan itu mempunyai akar yang kuat pada diri manusia. 

·        Prof. Dr. Carl Gustav Yung (Psikolog) menyatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan merupakan kecenderungan manusia yang alamiah (naturaliter relogiosa).

Apa sebenarnya yang perlu dipercayai oleh manusia? Kebenaran ! à kepercayaan kepada Tuhan itu harus benar.  (Ada pakar yang menyatakan: Percayalah kepada Tuhan karena kepercayaan seperti itu baik bagi manusia à tidak logis dan menyesatkan !).

Karena kepercayaan kepada Tuhan itu diperlukan à di dalam masyarakat terdapat berbagai bentuk kepercayaan kepada apa yang dipercayai sebagai tuhan atau dewa à diyakini sebagai kekuatan di atas manusia, kekuasaan yang tertinggi, diri yang mengatur alam, dsb.

·        Ada dewa-dewa alam (matahari, bulan, gunung, lautan)
·        Ada dewa-dewa kemanusiaan (pahlawan, pemimpin)
·        Ada dewa-dewa keluarga (sesembahan bangsa Cina)
·        Ada dewa-dewa penguasa kegiatan manusia (perang, perburuan, cinta dsb).

Tiap-tiap kepercayaan itu melahirkan tata nilai, norma yang dianut masyarakat, tradisi. Misalnya: percaya kepada dewa gunung à orang tidak mengutik-utik gunung. Ada suku bangsa yang merasa berkewajiban untuk terus berperang à untuk memenuhi keinginan dewa perang.

Nilai, norma dan tradisi yang salah pasti merugikan à kepercayaan kepada Tuhan harus merupakan kepercayaan yang benar, dan yang benar pasti tidak merugikan manusia.
à orang harus membuang kepercayaan yang salah dan menganut kepercayaan yang benar:
Syahadat Tauhid menyatakan:
Asyhadu Anlaa Ilaaha illalooh – Aku menyatakan kebenaran yang aku yakini, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah!

Laa Ilaaha – menolak segala kepercayaan yang tidak benar.
Illalloh – menerima kepercayaan yang benar, yaitu kepercayaan kepada Tuhan YME, Allah swt.



Iman kepada Tuhan YME merupakan fitrah manusia. Secara metaforik digambarkan oleh al-Qur-an, s. al-A’raf : 172. Pada ayat itu digambarkan bahwa ketika Allah mengeluarkan calon bayi dari tulang sulbi ayahnya, Allah bertanya kepada bakal manusia itu:
Maka calon manusia itu menjawab:

Benar, Engkau adalah Tuhan kami! Kami menjadi saksi tentang hal itu!

Iman kepada Tuhan YME sudah ditanamkan Tuhan sendiri kepada jiwa manusia à manusia perlu me-recall apa yang tertanam dalam jiwanya itu sehingga muncul ke permukaan. Recalling itu dilakukan orang dengan beberapa jalan:
·        Melakukan tafakur dengan akalnya.
·        Mempertajam perasaan untuk menghayati eksistensi Allah.

Manusia dapat mengenal adanya Tuhan YME, tetapi dengan usaha sendiri tidak akan tahu siapa dan bagaimana Tuhan itu. Seandainya Tuhan tidak memperkenalkan diriNya kepada manusia à manusia akan tersesat dalam menemukan Dia.

Manusia perlu informasi dari Tuhan sendiri, tentang siapa DiriNya, bagaimana sifat-sifatNya, apa yang Dia kehendaki untuk dilakukan oleh manusia. à Sesuai dengan kebutuhan manusia itu, Tuhan memberikan informasi langsung kepada manusia.

Sebagai yang Mahakuasa à Tuhan sangat bisa memberikan informasinya dengan cara-cara yang “dahsyat” (menuliskan keteranganNya di langit, menyatakannya dengan suara guruh dsb). à tidak sesuai dengan kondisi manusia sebagai makhluk yang berakal. à Allah menyampaikan informasiNya melalui wahyu, yang dikirimkan kepada Rasul-rasulNya.

Rasul-rasul Allah itu dipilih dan ditetapkan di antara manusia à dapat menyampaikan keterangan Allah dengan bahasa dan cara-cara yang sesuai untuk manusia.

Tugas Rasul :
·        Menyampaikan Risalah Allah
·        Memberi keterangan dan penjelasan tentang Risalah
·        Menjadi uswatun hasanah di dalam melaksanakan Risalah.

Rasul diturunkan pada tiap-tiap umat dan zaman



(Yunus : 47)

à jumlah Rasul seluruhnya tidak diketahui.
Sebagian di antara Rasul tersebut diceriterakan di dalam Al-Quran, sebagian tidak.
à yang diketahui adalah yang diceriterakan di dalam al-Qur-an, yaitu 25 orang.

Para Rasul itu menyampaikan ajaran pokok yang sama yaitu tauhid – meyakini keesaan Tuhan. Ada beberapa perbedaan antara ajaran Rasul

·        Masalah yang dihadapi oleh masing-masing umat tidak sama
·        mengikuti perkembangan zaman, pemikiran, cara hidup.

Allah SWT menetapkan Muhammad SAW sebagai Rasul yang terakhir à ajarannya sempurna dan berlaku untuk semua generasi dan tempat.

Kita mengucapkan syahadat kedua:
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Rasulullah SAW menyampaikan Al-Quran, himpunan wahyu Allah yang terakhir (sempurna) à tibyaanan likulli syai-in (menerangkan segala informasi yang diperlukan oleh manusia).
Kewajiban umat Muhammad adalah:
·        Membaca Al-Quran
·        Mempelajari Al-Quran
·        Mengamalkan Al-Quran
·        Menda’wahkan Al-Quran

Pertama-tama Allah menerangkan tentang diriNya:
Allah memperkenalkan diriNya dengan asma-asmaNya yang berjumlah 99 (Asma-ul Husna). Masing-masing nama menunjukkan sifat à Asma-ul Husna memperlihatkan sifat-sifat Allah yang perlu diketahui manusia.

Allah mencipta alam raya dan segala makhluk yang berada di dalamnya. Dia bukan saja Pencipta tetapi juga Pembina (Rabbul ‘alamin) à mengatur, mengembangkan, memelihara à unsur-unsur alam ini berinteraksi s.s.l. secara harmonis.

Allah mencipta manusia à Ahsanu taqwim. Manusia mempunyai akal pikiran yang mampu menganalisis alam, mengambil kesimpulan dan memanfaatkan hasil analisisnya.
(Kelebihan Adam dibandingkan dengan malaikat).
Manusia mempunyai dua fungsi :
·        Sebagai ‘Abdullah à harus taat kepada Allah
·        Sebagai Khalifah fil Ardhi à mengelola bumi ini untuk kemanfaatan semua makhluk termasuk manusia sendiri.

Kedua fungsi itu harus dijalani bersama-sama. Orang taat kepada Allah dengan mengatur kehidupan di bumi, dan mengatur kehidupan di bumi dengan bersandar kepada hukum-hukum Allah.

No comments: